Dharmasraya – Pelatih Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda) Kwartir Daerah (Kwarda) 03 Gerakan Pramuka Sumatera Barat, Kak Misrawati, memberikan materi tentang Sejarah Gerakan Pramuka dan Organisasi Gerakan Pramuka kepada 225 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Dharmas Indonesia (Undhari) dalam rangkaian Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) yang berlangsung di Universitas Dharmas Indonesia, Kabupaten Dharmasraya, Kamis (30/7/2026).
Materi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan kompetensi calon pembina Pramuka. Melalui pemahaman sejarah dan sistem organisasi, peserta diharapkan mampu mengenali jati diri Gerakan Pramuka sekaligus memahami peran strategisnya dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia.
Dalam paparannya, Kak Misrawati menjelaskan bahwa lahirnya Gerakan Pramuka di Indonesia merupakan bagian dari upaya bangsa membangun wadah pendidikan nonformal yang berorientasi pada pembinaan karakter, kepemimpinan, serta kecakapan hidup generasi muda. Gerakan Pramuka secara resmi berdiri pada 14 Agustus 1961 sebagai hasil penyatuan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia.
“Memahami sejarah Gerakan Pramuka sangat penting bagi setiap pembina. Dari sejarah itulah kita mengetahui nilai-nilai perjuangan, semangat persatuan, dan tujuan mulia yang melandasi berdirinya organisasi ini. Seorang pembina harus mampu mewariskan semangat tersebut kepada peserta didik,” ujarnya.
Selain mengulas perjalanan sejarah kepramukaan di Indonesia, Kak Misrawati juga memaparkan struktur organisasi Gerakan Pramuka, mulai dari Gugus Depan sebagai ujung tombak pembinaan hingga tingkatan kwartir di tingkat cabang, daerah, nasional, dan ranting. Ia menjelaskan bahwa setiap jenjang memiliki fungsi dan tanggung jawab yang saling mendukung dalam penyelenggaraan pendidikan kepramukaan.
Menurutnya, pemahaman terhadap organisasi Gerakan Pramuka akan memudahkan pembina dalam menjalankan tugas, membangun koordinasi, serta mengembangkan kegiatan kepramukaan yang sesuai dengan mekanisme organisasi.
“Pembina harus memahami bagaimana organisasi ini bekerja. Dengan begitu, setiap program yang dilaksanakan di gugus depan dapat berjalan sesuai kebijakan organisasi, memiliki arah yang jelas, serta mampu memberikan manfaat bagi peserta didik maupun masyarakat,” katanya.
Dalam sesi pembelajaran, peserta juga diajak berdiskusi mengenai perkembangan Gerakan Pramuka di tengah tantangan era digital. Kak Misrawati menekankan bahwa meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai dasar kepramukaan seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian, dan cinta tanah air tetap relevan sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.
Suasana kelas berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai perjalanan organisasi, struktur kelembagaan, hingga peran pembina dalam memperkuat eksistensi Gerakan Pramuka di lingkungan sekolah.
Kak Misrawati berharap seluruh peserta KMD mampu menjadi pembina yang memahami sejarah, menjaga nilai-nilai luhur organisasi, serta berperan aktif mengembangkan pendidikan kepramukaan di satuan pendidikan.
“Gerakan Pramuka telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa dalam membentuk generasi yang berkarakter. Tugas kita sebagai pembina adalah menjaga semangat itu tetap hidup melalui pembinaan yang berkualitas, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini,” tuturnya.
Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar yang diikuti 225 mahasiswa FKIP Universitas Dharmas Indonesia merupakan hasil kolaborasi Universitas Dharmas Indonesia dengan Kwarda Sumatera Barat dalam mencetak calon pembina Pramuka yang profesional. Melalui materi tentang sejarah dan organisasi Gerakan Pramuka, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai identitas, sistem kelembagaan, serta peran strategis Gerakan Pramuka sebagai wadah pendidikan karakter bagi generasi muda.
Pewarta : Humasinfo Kwarda Sumbar
