Padang, 21 Juni 2026 – Ketua Harian Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Barat, Kak Yulius, ST, menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak akan mampu menghasilkan perubahan perilaku peserta didik apabila hanya disampaikan melalui teori dan ceramah di ruang kelas. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi kepada mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) di Aula Kampus UPGRISBA, Minggu (21/6/2026).
Di hadapan para calon guru yang tengah menempuh pendidikan profesi, Kak Yulius menjelaskan bahwa pendidikan karakter dan pendidikan kepramukaan memiliki hubungan yang sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, kepramukaan merupakan laboratorium pendidikan karakter yang telah terbukti mampu membentuk generasi muda yang berintegritas, disiplin, bertanggung jawab, peduli, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
“Karakter bukan sekadar pengetahuan yang dihafal. Karakter dibentuk melalui pembiasaan, keteladanan, pengalaman, dan pengamalan nilai-nilai kehidupan. Di sinilah pendidikan kepramukaan menjadi sangat relevan karena seluruh kegiatannya dirancang untuk membentuk karakter peserta didik secara langsung,” tegas Kak Yulius.
Ia menjelaskan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, seperti menurunnya disiplin, rendahnya kepedulian sosial, meningkatnya perilaku individualistis, hingga penyalahgunaan teknologi digital, tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan akademik semata. Dibutuhkan pendidikan yang menyentuh aspek sikap, moral, dan kepribadian peserta didik.


Menurutnya, Gerakan Pramuka hadir sebagai solusi melalui penerapan Sistem Among, belajar sambil melakukan, kegiatan berkelompok, pengabdian kepada masyarakat, serta pengamalan nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma dalam kehidupan sehari-hari.
“Kepramukaan bukan sekadar kegiatan berkemah atau baris-berbaris. Kepramukaan adalah proses pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya. Di dalamnya ada pendidikan kepemimpinan, gotong royong, kemandirian, kecakapan hidup, kepedulian lingkungan, hingga semangat pengabdian kepada bangsa dan negara,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Yulius juga menekankan pentingnya pemahaman kepramukaan bagi mahasiswa PPG sebagai calon pendidik profesional. Ia menyebutkan bahwa guru pada abad ke-21 dituntut tidak hanya mampu mengajar dan menguasai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan serta pembentuk karakter peserta didik.


Mahasiswa PPG UPGRISBA yang saat ini sedang mempersiapkan diri menjadi guru profesional di berbagai jenjang pendidikan dinilai memiliki posisi strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap pendidikan karakter berbasis kepramukaan menjadi bekal penting yang harus dimiliki sejak dini.
“Guru adalah ujung tombak pendidikan karakter. Ketika seorang guru memahami metode pendidikan kepramukaan, maka ia memiliki instrumen yang lebih lengkap untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan sosial,” katanya.
Kegiatan tersebut berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para mahasiswa PPG. Berbagai pertanyaan muncul terkait implementasi pendidikan karakter di sekolah, penguatan profil pelajar Pancasila, serta peran kegiatan kepramukaan dalam menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks.
Sementara itu, pihak UPGRISBA menyambut baik kehadiran Kwarda Sumatera Barat dalam memberikan penguatan wawasan kepada mahasiswa PPG. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan dengan tugas dan tanggung jawab calon guru yang nantinya akan berhadapan langsung dengan generasi muda Indonesia.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para mahasiswa PPG UPGRISBA Sumbar semakin memahami bahwa pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Kepramukaan menjadi salah satu wahana pendidikan yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta semangat pengabdian yang sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi emas Indonesia menuju tahun 2045.
Bagi Gerakan Pramuka, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik peserta didik, tetapi juga dari lahirnya generasi yang berakhlak mulia, berkarakter kuat, cinta tanah air, dan siap menjadi pemimpin masa depan bangsa. Pendidikan karakter dan pendidikan kepramukaan pada akhirnya merupakan dua sisi mata uang yang saling melengkapi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
Pewarta : Humasinfo Kwarda Sumbar
