Padang, 8 Juni 2026 – Menurunnya minat sebagian generasi muda terhadap kegiatan organisasi dan semakin kuatnya pengaruh dunia digital menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi Gerakan Pramuka saat ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama Ketua Harian Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Sumatera Barat, Yulius, saat memberikan materi kepada ratusan peserta Kursus Mahir Dasar (KMD) Mahasiswa PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang di Aula Kwarda Sumbar, Senin (8/6).
Dalam sesi yang dimoderatori oleh pelatih Pusdiklatda Sumbar, Candrianto, Kakak Yulius memaparkan secara komprehensif arah kebijakan Kwarda Sumbar sekaligus kondisi terkini pendidikan kepramukaan di Sumatera Barat yang tengah menghadapi dinamika perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.


Menurutnya, Gerakan Pramuka tidak boleh hanya bertahan sebagai organisasi pendidikan karakter, tetapi harus mampu bertransformasi menjadi wadah pembinaan generasi muda yang modern, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
“Anak-anak muda hari ini hidup di era digital dengan berbagai pilihan aktivitas yang sangat beragam. Jika Pramuka tidak melakukan inovasi dan pembaruan dalam metode pembinaan, maka kita akan tertinggal. Karena itu Kwarda Sumbar terus mendorong transformasi pembinaan yang lebih kreatif, menarik, dan berdampak,” tegas Yulius di hadapan ratusan peserta.
Ia menjelaskan bahwa arah kebijakan Kwarda Sumbar saat ini berfokus pada penguatan kualitas anggota muda, peningkatan kompetensi pembina dan pelatih, transformasi digital organisasi, penguatan kemitraan dengan dunia pendidikan, serta pengembangan program-program kepramukaan yang mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini.

Suasana diskusi semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Salah seorang peserta menyoroti fenomena menurunnya minat generasi muda untuk aktif dalam kegiatan Pramuka dan meminta solusi konkret dari Kwarda Sumbar.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Yulius menegaskan bahwa Gerakan Pramuka harus berani meninggalkan pola pembinaan yang monoton dan menghadirkan kegiatan yang memberikan pengalaman nyata bagi peserta didik.
“Generasi muda tidak cukup hanya diberikan teori. Mereka membutuhkan pengalaman, tantangan, petualangan, proyek sosial, kewirausahaan, keterampilan digital, dan ruang untuk berkreasi. Pramuka harus mampu menjadi tempat belajar yang menyenangkan sekaligus membentuk karakter,” ujarnya.
Pertanyaan kedua datang dari peserta yang menanyakan strategi Kwarda Sumbar agar Pramuka tetap diminati di tengah menjamurnya komunitas dan aktivitas lain yang lebih populer di kalangan generasi muda.
Dengan lugas, Yulius menjawab bahwa kualitas pembina menjadi faktor kunci keberhasilan pembinaan kepramukaan di masa depan.
“Pramuka tidak boleh kalah menarik dari organisasi atau komunitas lain. Kuncinya ada pada pembina yang inspiratif dan program yang relevan. Kita harus memperkuat publikasi, memanfaatkan media digital, dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa Pramuka mampu melahirkan generasi yang tangguh, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan kepramukaan masih memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di Sumatera Barat. Melalui sistem among dan metode kepramukaan, peserta didik dibentuk menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki jiwa kepemimpinan.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu sesi yang paling mendapat perhatian peserta KMD. Ratusan mahasiswa calon pembina Pramuka tampak antusias mengikuti diskusi yang berlangsung hampir tanpa jeda, menunjukkan tingginya kepedulian terhadap masa depan pendidikan kepramukaan.
Melalui kegiatan ini, Kwarda Sumbar berharap lahir generasi pembina muda yang mampu menjadi motor penggerak pembaruan pendidikan kepramukaan di sekolah dan madrasah, sehingga Gerakan Pramuka tetap menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Pewarta : Humasinfo Kwarda Sumbar
